Akhirnya setelah ngelewatin jalan berliku, sampe juga di pintu masuk
punthuk mongkrong, bayar tiket masuknya murah kok, Rp.6.000 aja, menurut
informasi dari mas-mas penjaga tiket (yang namanya enggan dipublikasikan..oke
sebut saja mawar), kita masih harus jalan lagi ke atas ya kira-kira sekitar 10
menit, gak masalah deh. Setelah melewati jalan setapak yang di kanan kiri
disuguhi pemandangan perbukitan yang rimbun sampe juga di Punthuk Mongkrong.
Gak mengecewakan, disini ada beberapa spot foto yang instagramable buat dipake
selfie or wefie.![]() | |||
| Punthuk Mongkrong |
Puas foto-foto disini, akhirnya gue
turun dan sempet nanya ke salah satu pengunjung arah menuju ke punthuk
sukmojoyo, entah kenapa..selain mau nanya gue juga iseng mau nerawang dia (dari
dulu gue demen banget liat yang nerawang-nerawang gitu…awww) , menurut
penerawangan dan indera keenam gue orang ini belum dikaruniai keturunan seumur
hidupnya..kasian (sadis gak tuh sampe tau..), perawakannya kurus, muka lugu,
menggunakan celana pendek merah kusam, dan kemeja putih bertuliskan tut wuri
handayani di kantongnya…, “deket kok
mas..turun aja, nanti ada pertigaan belok kanan, ada papan petunjuknya, kalo
bingung tanya lagi aja disitu (iyalaah maliiih…gue juga tau klo bingung nanya).
Rabu pagi.. tempat kembali bagi pelukanmu yang sempat beranjak pergi.
Tentang bekal rindu yang kau titipkan semalam, aku masih pada keraguan.. antara menyimpan atau sekedar kukenang.
Jika saja aku bisa membaca hatimu lewat isyarat tatapan matamu kala itu, mungkin dongeng aku dan kamu kan tertulis..
_Magelang 5 oktober 2016_
Kisah yang lain
Menterjemahkan arti tatapan matamu bagai menyingkap simbol-simbol dalam ruang gelap hampa serta mematikan batas-batas logika
Jika proses jatuh hati begitu sederhana tercipta, maka tidak pada kisah kita, bagai mengurai simpul, membaca arah, hingga memaknai tiap pertanda.. seolah tak kunjung pasti kemana akhirnya
Kini langkahku meragu, menghasut hati yang kian cemburu pada tiap detik yg dinanti dalam kesunyian angin senja, haruskah berjuang walau tanpa tujuan?
Namaku yang pernah ada di hidupmu begitupun kamu yang pernah ada di hatiku.. meski singkat namun menghujam tanpa belas kasihan. Sebuah rasa yang mungkin tabu dipertahankan, hingga hanya pantas di nikmati dalam diam.
Akankah ada pemberhentian dari langkah yang tercipta?
Akankah kita menimang rasa yang sama?
Akankah ada jawaban untuk tiap tanya?
Jawabnya kan selalu ada, walau hanya sebatas doa..
-yogi-
Perempuan yang kuberi nama jingga






