Surat di ujung senja



"Surat di ujung senja"

Surat ini aku tulis tak begitu jauh darimu, kamu tau kenapa? Itu karena aku tetap ingin bisa menikmati wajahmu ketika kamu masih terlelap di balik selimutmu. Di sisi tempat tidur ini aku dengan leluasa melihat polosnya wajahmu, wajah yang selalu menyuguhkan senyuman dalam tiap rasa jenuhku. Kamu yang selalu ada, kamu yang selalu berbicara tentang cinta yang kau punya.
Melihat tulusmu berkata, halusnya laku serta bagaimana kau menyayangiku, rasanya tak adil jika kisah kita hanya persinggahan sementara. Kau yang tak pernah menuntut keadaan yang tak berpihak pada kisah kita, namun terlalu munafik bagiku untuk mengingkari rasa yang terlanjur ada. Entah siapa yang akan ditakdirkan menjadi pasangan kita, namun sebagaimana kau selalu mengharap akhir dari kisah ini kita akan bersama, namun sepertinya keadaan tak mungkin akan berbicara serupa.
Masih jelas dalam ingatanku ketika kau berat melepasku. Saat aku harus pergi meninggalkan negara ini untuk hati yang lain yang telah terlanjur memilikiku lebih dulu. Hangat kecupan bibirmu masih jelas terasa, seiring air mata yang jatuh dipipimu saat itu. Namun sekeras apapun saat itu kau menahanku tetap tak bisa hentikan langkahku.

Bagaimanapun aku tetaplah orang yang paling pantas dipersalahkan atas cerita yang telah terlanjur kita tulis, maka akankah cerita ini sempurna menjadi sebuah buku untuk dibaca atau hanya menjadi lembaran yang tak pernah bisa bercerita. Aku selalu membayangkan, suatu saat nanti ketika kisah kita harus terhenti entah karena apa, aku dan kamu akan menyadari begitu naifnya kita. Maka tak berlebihan harapku, saat kita telah menemukan jalan kita sendiri kenanglah hari dimana rasaku dan rasamu pernah terbina dalam lingkaran dosa. Dosa yang seperti candu, hingga membuat kita lupa akan siapa diri kita. Lalu siapakah yang berhak menghakimi kita? Rasanya tak ada yang pantas selain kita sendiri, karena rasa tak pernah salah, untuk itu tak perlu mempersalahkan yang telah ada apalagi menyesalinya.

Sayang, saat kau terbangun nanti mungkin kau takkan menemukan aku lagi di sampingmu, aku terlalu pengecut untuk bisa menemanimu membaca surat yang saat ini sedang kutulis. Tasku telah kusiapkan, pakaian yang berserakan setelah pergumulan kita semalam pun telah kurapikan. Biar dinding yang merekam apa yang terjadi tadi malam. Aku telah memikirkan, bahwa kisah ini harus kita akhiri disini, apapun alasannya. Aku harap kita cukup tabah untuk berhenti melangkah. Dan melanjutkan langkah demi hati-hati yang lebih memiliki hak bagi hati kita. Akan kita temui musim-musim dingin dimana pelukan kita tak lagi bisa saling menghangatkan, yang ada hanya kenangan ketika peluh pernah menyelimuti kulit kita, itupun kalau kita masih punya cukup keberanian untuk sekedar mengenang.

Awal pertemuan kita siang itu, menjadi pijakan bagi kisah yang tak lelah bercerita, kita terlalu bodoh untuk membentuknya menjadi rasa yang harus tidak pernah ada. Namun kebodohan itu tak pernah sedikipun kusesali karena itulah yang membuatku belajar untuk mencintai sesorang yang telah memilikiku, begitupun denganmu.

Untukmu yang sedang terlelap, tidurlah di hatiku, bersama kisah kita. Aku pergi...

( Bukan kisah nyata lho..., cuma khayalan )

0 Response to "Surat di ujung senja"

Posting Komentar