Jingga


Jingga


Perempuan yang kuberi nama jingga

Kehadiranmu adalah antitesis meruntuhkan tiap rapalan ikrar yang selama ini sakral terucap

Benteng yang kokoh kususun dari susunan janji-janji terhempas dimakan abrasi yg tak terelakkan pasti

Aku kehilangan arah mata angin... aku lupa kemana harus kukembali

Akankah ada kesalahan tentang rasa ini? Tapi aku terlanjur meyakini kata-kata picisan yang sering terucap dari para pujangga...bahwa rasa tak pernah salah..

Ahhh..biarlah..jika ini sebuah kesalahan..kan kujadikan sebagai dosa termanis untuk menaklukkan hatimu

Namun izinkan aku menjadi satu-satunya lelaki yang diam-diam menyayangimu dalam sunyi... 
karena tak mungkin aku membagi apa yang telah menjadi milik hati yang sedang dalam ikatan
Karena satu-satunya yang kumampu hanya mengagumimu dalam bait doa-doaku

Wahai Jinggaku...


( Terinspirasi dari kisah seorang sahabat..)
-Yogi- oktober 2015

Untukmu hatiku...



Untuk hati yang kini tengah terpisah...

Aku tau dan sadar bahwa rasa takkan pernah berdusta, antara sayang dan cinta yang kita punya terkadang memang selalu diuji, mulai dari ada tamu yang tanpa permisi berusaha coba berbagi, sampai jarak yang pasti selalu terbiasa kau tangisi. Percayalah hatiku yang akan meyakinkan hatimu, bahwa jarak hanyalah musuh lemah yang pasti dapat kita taklukkan, jadi biarlah sementara aku disini mempersiapkan kehidupan kita, ya untuk kita... karena cepat atau lambat kau akan ada di kota ini untuk mendampingiku, mengecup keningku saat pagi kubuka mata, menyiapkan kemeja kerjaku, sampai secangkir teh atau kopi yang akan menjadi penyemangatku melalui hari. Sayang....jarak yang sementara membentang hanya akan membuktikan kuatnya cinta kita dalam melalui hidup, maka apalah artinya jarak yang memisahkan kita dibanding liku-liku kehidupan yang akan bersama-sama kita arungi nanti?

Untuk hati yang kini tengah bimbang...

Taukah kamu? Memutuskan untuk mencintai seseorang adalah bukan hal yang mudah untukku..
Namun aku tlah yakinkan perasaanku ketika mengenalmu dulu, bahwa kau wanita yang dipilihkan Tuhan untukku. Mungkin apa yang aku tunjukkan belum mampu menggambarkan besarnya ketulusan yang aku punya. Namun dalam tiap rapalan doa yang aku ucap.. kamu adalah salah satu bait yang tak pernah lupa kusebut. Aku yakin Tuhan tau tujuanku, keinginanku untuk kisah kita, bahkan tanpa kuucapkan pun Tuhan pasti akan persatukan kita dalam ikatan suci dam ridhoNya tapi layaknya sebuah kebiasaan menyebut namamu adalah bagian dari cara sederhanaku mencintaimu. Dibalik lelahmu menjalani hidup, disini tak berhenti ku berdoa untuk harimu.

Untuk hati yang telah kupercayakan semua perasaanku padamu...

Sungguh aku mengagumi sosokmu sebagai wanita yang berhasil menaklukkanku...bukan karena parasmu tapi karena hatimu. Tak putusnya lidahku mengucap syukur ketika Tuhan mempertemukan kita, karena mulai dari sana semua anggapanku tentang cinta berhasil kau ubah dari sudut pandang yang berbeda. Kau mengemas cinta dengan warna yang tak sama, tak selalu layaknya roman picisan yang mendayu-dayu dalam bercerita. 

Untuk hati yang bersamamu kan kuhabiskan sisa hidupku...

Tujuan kita sama, membangun rumah tangga yang bahagia. Dan itu kita ibaratkan sebuah bangunan megah yang akan kita huni nantinya, untuk itulah kita harus berjuang menguatkan pondasinya mulai sekarang, agar tetap kokoh jadi peneduh kehidupan kita. Sungguh terkadang sering kali aku merindukan saat-saat dimana kita bisa duduk berdua bercerita tanpa jeda, sambil sesekali melepaskan tawa bersama. Aku rindu menghabiskan waktu denganmu menikmati suasana kota hingga larut malam, walau aku tau rasa kantukmu tak bisa kau sembunyikan dariku  tapi karena terpisah jarak keinginan itu harus kutahan. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk kita. Ada masa depan kita yang harus aku perjuangkan disini.

Sayang kumohon tetaplah kuat disana menungguku menjemputmu, dan percayalah mulai saat itu kita takkan terpisah lagi... Terima kasih telah membawakan rasa yang dulu tak pernah kumiliki, rasa yang hingga mati kan kuyakini sebagai satu-satunya rasa cinta yang kumiliki.

Opening Centro Cirebon, keluarga itu ya kalian....

Yuuuk kita flashback jaman-jaman gue kerja di Centro, setelah sebulan training di Centro Jogja akhirnya bulan mei 2014 gue dan semua tim Centro Cirebon yang baru dibentuk balik ke Cirebon. Selama di kereta bayang-bayang dikepala macem-macem, gimana ngga..ilmu yang secara singkat kita dapetin selama sebulan harus kita praktekin semua. Ada yang semangat 45 balik ke Cirebon, ada juga yang udah ngerencanain mau resign...cepet bener yaa sob baru juga masuk,hehehe

Sesampenya di Cirebon kita langsung bagi tugas masing-masing, pastinya karena gue di divisi HRD ya ga jauh-jauh gue harus penuhin target rekrut karyawan. Dalam waktu kurang dari sebulan gue harus dapetin kurang lebih 500 orang karyawan, dan itu gue interview sendirian....kebayangan kan gimana berbusanya mulut gue wawancara segitu banyaknya orang?hahaha

Tapi disini gue bener-bener ngerasain dapet keluarga baru yang gue sayaaaang banget, capeknya kerja jadi gak berasa kalo udah ngumpul terus ketawa-ketawa bareng. Atasan yang friendly dan baik banget sama gue, temen-temen yang gak kalah baiknya, dan juga seluruh karyawan termasuk SPB & SPG yang bener-bener bikin gue ngerasa mereka keluarga kedua gue. Ini tempat kerja terbaik dan sampe kapanpun selalu bikin gue kangen. Miss u always team...


Surat di ujung senja



"Surat di ujung senja"

Surat ini aku tulis tak begitu jauh darimu, kamu tau kenapa? Itu karena aku tetap ingin bisa menikmati wajahmu ketika kamu masih terlelap di balik selimutmu. Di sisi tempat tidur ini aku dengan leluasa melihat polosnya wajahmu, wajah yang selalu menyuguhkan senyuman dalam tiap rasa jenuhku. Kamu yang selalu ada, kamu yang selalu berbicara tentang cinta yang kau punya.
Melihat tulusmu berkata, halusnya laku serta bagaimana kau menyayangiku, rasanya tak adil jika kisah kita hanya persinggahan sementara. Kau yang tak pernah menuntut keadaan yang tak berpihak pada kisah kita, namun terlalu munafik bagiku untuk mengingkari rasa yang terlanjur ada. Entah siapa yang akan ditakdirkan menjadi pasangan kita, namun sebagaimana kau selalu mengharap akhir dari kisah ini kita akan bersama, namun sepertinya keadaan tak mungkin akan berbicara serupa.
Masih jelas dalam ingatanku ketika kau berat melepasku. Saat aku harus pergi meninggalkan negara ini untuk hati yang lain yang telah terlanjur memilikiku lebih dulu. Hangat kecupan bibirmu masih jelas terasa, seiring air mata yang jatuh dipipimu saat itu. Namun sekeras apapun saat itu kau menahanku tetap tak bisa hentikan langkahku.

Bagaimanapun aku tetaplah orang yang paling pantas dipersalahkan atas cerita yang telah terlanjur kita tulis, maka akankah cerita ini sempurna menjadi sebuah buku untuk dibaca atau hanya menjadi lembaran yang tak pernah bisa bercerita. Aku selalu membayangkan, suatu saat nanti ketika kisah kita harus terhenti entah karena apa, aku dan kamu akan menyadari begitu naifnya kita. Maka tak berlebihan harapku, saat kita telah menemukan jalan kita sendiri kenanglah hari dimana rasaku dan rasamu pernah terbina dalam lingkaran dosa. Dosa yang seperti candu, hingga membuat kita lupa akan siapa diri kita. Lalu siapakah yang berhak menghakimi kita? Rasanya tak ada yang pantas selain kita sendiri, karena rasa tak pernah salah, untuk itu tak perlu mempersalahkan yang telah ada apalagi menyesalinya.

Sayang, saat kau terbangun nanti mungkin kau takkan menemukan aku lagi di sampingmu, aku terlalu pengecut untuk bisa menemanimu membaca surat yang saat ini sedang kutulis. Tasku telah kusiapkan, pakaian yang berserakan setelah pergumulan kita semalam pun telah kurapikan. Biar dinding yang merekam apa yang terjadi tadi malam. Aku telah memikirkan, bahwa kisah ini harus kita akhiri disini, apapun alasannya. Aku harap kita cukup tabah untuk berhenti melangkah. Dan melanjutkan langkah demi hati-hati yang lebih memiliki hak bagi hati kita. Akan kita temui musim-musim dingin dimana pelukan kita tak lagi bisa saling menghangatkan, yang ada hanya kenangan ketika peluh pernah menyelimuti kulit kita, itupun kalau kita masih punya cukup keberanian untuk sekedar mengenang.

Awal pertemuan kita siang itu, menjadi pijakan bagi kisah yang tak lelah bercerita, kita terlalu bodoh untuk membentuknya menjadi rasa yang harus tidak pernah ada. Namun kebodohan itu tak pernah sedikipun kusesali karena itulah yang membuatku belajar untuk mencintai sesorang yang telah memilikiku, begitupun denganmu.

Untukmu yang sedang terlelap, tidurlah di hatiku, bersama kisah kita. Aku pergi...

( Bukan kisah nyata lho..., cuma khayalan )